Day 3: A Memory
Haloo, apa kabar, frens?
Sepertinya ini akan menjadi #90 days writing challenge, hahahha. Sangat
sulit meluangkan waktu akhir-akhir ini. But, I’ll complete this challenge for
sure.
Memory, kenangan,
tentu semua orang memilikinya. Setiap hal yang terjadi saat ini bisa menjadi
kenangan bagi diri sendiri atau orang lain, entah itu akan menjadi kenangan
yang baik atau yang buruk. Kadang kita tidak menyadari, betapa berharganya
waktu yang telah kita lalui hingga itu sudah menjadi sebuah kenangan.
“You will never know the value of a moment until it becomes a memory.”- Unknown
Sebelum tidur saya sering mengingat kenangan masa lalu. Bahkan sampai bisa pilih mau genre apa malam ini, hahaha. Banyak kalimat yang mengatakan, jangan terjebak dengan kenangan masa lalu. Ya, mungkin benar. Tapi kalau sekadar mengingat dan mengambil pelajaran boleh, kan? Karena memang itu fungsi kenangan, untuk dikenang [smile]
***
Bahas soal kenangan, saya
ingat salah satu film Disney yang menjadi film favorit saya, Inside Out. Menurut
saya analogi cara kerja otak membuat memori dengan alur film ini sangat mudah
dipahami, hahah. Dalam tubuh seorang
anak bernama Riley, terdapat 5 jenis emosi yang menguasai perasaan dan pikirannya,
yaitu; Joy, Angry, Sadness, Disgust dan Fear. Kelima jenis emosi ini selalu
berebut untuk menguasai keseharian Riley, dan tiap pengalaman/hal yang Ia
lakukan pasti akan menjadi sebuah kelereng kenangan dengan warna salah satu emosi.
Kenangan yang disimpan
akan diingat seperti apa emosi yang terjadi saat itu, misalnya pada saat Riley
mencoba makan brokoli, karena saat itu
Disgust yang mendominasi Riley, jadi kenangan makan brokoli menjadi kenangan
yang menjijikkan baginya. Seperti itulah manusia, jika mengalami peristiwa senang,
sedih atau yang lainnya, pasti kalau diingat kembali perasaan yang sama pasti
akan muncul. Karena itu juga saya bisa memilih genre apa setiap malam kalau mau
mengenang kejadian di masa lalu.
Hal yang sedikit membuat
saya kesal dan akhirnya mendapat pelajaran dari film ini adalah dari si Sadness.
Sad setiap menyentuh kenangan pasti akan berubah warna menjadi warnanya (biru),
yang akhirnya bisa membuat kenangan bahagia menjadi sedih. Sad ini sangat mudah
masuk ke dalam kendali pikiran Riley, lengah sedikit Sad akan menguasai
kesedihan di semua kenangan. Coba deh yang belum nonton, pasti awalnya kesal, hahaha. Tapi
di akhir film, Sad ini menjadi berguna bagi Riley. Sad tidak selalu mengatur
tentang tangis kesedihan, tapi juga bisa menimbulkan rasa empati dan kasih
sayang akan orang lain. Kenangan bahagia yang ditambah sedikit rasa sedih akan
menjadikan kenangan itu lebih indah untuk dikenang.
![]() |
| Joy dan kawan-kawan |
Film ini juga mengajarkan
untuk menghargai setiap emosi dan memori yang ada di dalam diri. Mereka adalah
hal yang saling berkaitan dan semuanya penting, tidak ada emosi yang tidak berguna. Karena dengan berbagai emosi itulah kita bisa belajar
apabila mengalami kejadian serupa di masa depan. Seperti rasa takut yang akan
mengajarkan kita untuk lebih hati-hati jika sedang mengalami ancaman seperti
yang terjadi di masa lalu, atau rasa jijik (si Disgust ini kalo di subtitel
jadi jijik mulu, hahah) yang bisa membuat kita lebih teliti dalam
memilih suatu hal.
Sebenarnya masih banyak analogi
keren lainnya dalam film ini, seperti kenangan jangka panjang dan pendek,
kenangan yang masuk alam bawah sadar, bagaimana kenangan bisa menimbulkan
kepribadian, bahkan toxic positivity. Tapi nanti malah jadi spoiler untuk yang belum nonton*padahal aslinya mager. Oh iya, film Inside Out 2 katanya tayang 2024, ya? Saya rasa tidak akan kalah keren
dengan film pertamanya, hehe.
Itu saja cocoklogi dari
lulusan S3 Perfilman Oxford. Semoga kalian mengenang kenangan sebagaimana
mestinya ya, ingat kalau semua emosi itu berguna asalkan sesuai dengan porsinya saja. See ya, frens!💕💕



Komentar
Posting Komentar